Home Experiences

Untuk yang kedua kalinya aku kembali berkunjung ke pesantren jiwa, namun kali ini berbeda tempatnya dari pesantren jiwa yang kukunjungi beberapa waktu lalu. Di kunjunganku kali ini, aku bisa melihat langsung barak-barak mereka. Dan apa yang kutemui? Subhanallah!

Meskipun sempit namun terasa hangat. Ada kebersamaan yang melahirkan persaudaraan yang begitu hangat di sana. Aku pun turut mengobrol santai di salah satu barak. Beberapa mukena dan sajadah tergantung rapi di salah satu sudut. Dua buah kasur tergeletak di atas lantai yang tak berubin.  Saat itu mereka sedang menikmati makan siangnya. Salah seorang ibu yang baru saja menunaikan sholat Dzuhur bercerita singkat dengan mata kacanya bahwa kasus yang membawanya menjadi penghuni pesantren ini adalah masalah cinta. Sang suami ditemukan tengah berselingkuh dengan seorang wanita. Dengan rasa cemburu dan kemarahan yang luar biasa, ia menghabisi nyawa sang suami dan memutilasinya. Perbuatan mengerikan dan kejikah itu? Tentu saja iya! Haruskah dihukum karena perbuatannya? Tentu! Namun haruskah kita mengutuknya? Tidak! Dalam sebuah hadits diceritakan ketika ada seseorang yang didapati minum khamr lalu dibawa pada Rasulullah SAW, maka beliau memerintahkan untuk menderanya, dimana dia telah banyak minum khamr. Lalu seseorang dari kau berkata, “Ya Allah, kutuklah ia. Berapa banyak yang telah dilakukannya.” Rasullah menjawab, “Janganlah kamu mengutuknya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui melainkan bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR.Bukhori)

Pasti selalu ada faktor-faktor yang membuat seseorang melakukan kejahatan. Setiap dari kita pernah melakukan kejahatan, pernah melakukan kesalahan. Namun sebaik-baik orang yang salah adalah yang kembali kepada kebenaran. Berada di pesantren jiwa membantu mereka untuk meraih hal itu. Di tempat ini mereka punya begitu banyak waktu untuk mencurahkan perasaan cinta dan rindu pada Rabb-Nya. Ada Allah sebagai tempat mengadu. Ada Allah sebagai tempat meneteskan air mata taubat dan penyesalan. Semakin mereka jauh dari hiruk pikuk dunia di luar pesantren ini, ternyata semakin menebal iman mereka. Karena memang, tak ada lagi tempat bergantung, selain pada Allah semata.

Tidak perlu mengajarkan  mereka untuk bersabar. Percayalah, mereka adalah hamba-hamba Allah yang sangat sabar. Pesantren jiwa adalah sekolah termahal yang mengajari mereka tentang kesabaran. Berita kematian suami, kematian anak atau sanak saudara dan surat perceraian yang datang tiba-tiba, bagaikan guntur di siang bolong adalah hal yang biasa terjadi di pesantren jiwa ini. Begitu pula keadaan menunggu hari-hari saat peletuk senjata ditarik dan diarahkan pada tubuh mereka karena vonis hukuman mati. Pelajaran demi pelajaran tak terduga yang disuguhkan ini melatih jiwa-jiwa untuk terus kuat dan tabah menjalani hari demi hari.

Setiap musibah akan membawa kebaikan. Allah mengantarkan mereka ke tempat ini , karena Allah ingin hamba-Nya merasakan nikmatnya rasa bertaubat. Bukankah kita baru bisa merasakan nikmatnya bertaubat ketika kita telah berbuat kesalahan?

Sekalipun, Allah takkan pernah membiarkan hamba-hamba-Nya dalam keburukan. Beginilah cara Allah membawa hamba-Nya kembali pada-Nya. Ya, seperti ini, dengan menimba ilmu di pesantren jiwa ini.

Tadi, sebelum aku mendatangi barak ini, aku disambut dengan tarian di dalam aula. Sebagian dari mereka memukul gendang dan sebagian lagi menari dengan lincah. Kostum merah dan makeup sederhana membuat mereka tampak cantik dan segar siang itu. Seorang santriwati yang akan melaksanakan hukuman mati beberapa hari lagi, memukul gendang dengan penuh semangat dan terus melemparkan senyuman yang ku tahu akan terus melekat di hatiku.

Dari senyumnya, seolah-olah aku merasakan betapa ia sangat siap menunggu hari itu tiba, hari di saat ia akan bertemu dengan Rabb-Nya. Ada cinta dan rindu pada Allah di hatinya. Ada sabar dan tawakal yang menghiasi hari-harinya. Itulah yang membuatnya tidak takut dan gelisah menghadapi hari yang sudah pasti ada... seoalah-olah ia berkata, “Aku ridho pada apapun yang terjadi padaku, Allah. Sesungguhnya aku adalah milik-Mu, dan kepada Kau lah aku kembali”

Duhai Allah…seandainya setiap manusia tahu, kapan saatnya kematian itu datang, sudah pasti para manusia sibuk mempersiapkan amalan-amalan untuk dibawanya kepada-Mu, menghentikan segala kelalaiannya, bangkit dari dosa dan takkan lengah sedikitpun dari jalan-Mu.

Seorang bayi yang tiba-tiba disodorkan padaku membuyarkan lamunanku. Saat aku masih terpaku, semua santriwati di barak itu menyambut sang bayi dengan sumringah. Dengan penuh kasih sayang, mereka menggendong sang bayi yang berumur lima tahun itu secara bergantian. Tak terkecuali sang ibu tadi. Naluri kewanitaan yang penuh kelembutan bermunculan ketika bayi itu hadir di tengah-tengah mereka. Aku tersenyum. Bayi itu memiliki ibu yang banyak!

Kehadiran sang bayi membuat keadaan hati menjadi semakin senang. Obrolan di barak ini kemudian beralih dengan obrolan penuh dengan canda tawa. Mereka membicarakan kerajinan-kerajinan yang bisa mereka buat di tempat ini. Melukis, menjahit, pajangan, tempat handphone, tas, dll yang nantinya akan dijual bagi para pengunjung pesantren.

Ketika aku berpamitan untuk pulang, kudekap saudara-saudaraku dengan erat. Aku berharap dekapan itu bisa menghalau duka dan membuang lara walau sejenak. Ku tahu, cintaku akan terasa, walau tanpa kata.

By: 0SD -2011-

 

  • No comments found
Add comment
 

Twitter Oki

We couldn't find the twitter data of your account at this time!